PROMOSI KESEHATAN | Syoretta's Blog
Tampilkan postingan dengan label PROMOSI KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROMOSI KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

PROMOSI KESEHATAN PHBS TEMPAT KERJA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian PHBS

a. Perilaku Sehat
Adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.
b. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.

c. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

B.  Tujuan PHBS
    PHBS/Promosi Higiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah penyakit menular yang lain melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. Dan dapat melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS.

C. Sasaran PHBS Tatanan Tempat Kerja
       Merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif. Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah, dan sehat.
a. Sasaran primer
       Adalah sasaran utama dalam lingkungan tempat kerja yang akan dirubah perilakunya yaitu seluruh aspek yang ada dalam suatu perusahaan (karyawan dan pemilik perusahaan) yang bermasalah.
b. Sasaran sekunder
       Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu yang bermasalah dalam lingkungan tempat kerja yaitu pemilik perusahaan, mitra kerja
c. Sasaran tersier
       Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS dalam lingkungan perusahaan, yaitu kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, tokoh masyarakat.
Indikator PHBS di tempat kerja antara lain :
Semua PHBS diharapkan dilakukan di tempat kerja. Namun demikian, tempat kerja telah masuk kategori Tempat Kerja Sehat, bila masyarakat pekerja di tempat kerja :
1.      Tidak merokok di tempat kerja
2.      Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.
3.      Melakukan olahraga secara teratur/aktivitas fisik
4.      Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil
5.      Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.
6.      Menggunakan air bersih.
7.      Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.
8.      Membuang sampah pada tempatnya. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan.

D. Strategi Kegiatan PHBS
     Menyadari bahwa perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan juga dimensi ekonomi, yaitu hal-hal yang mendukung perilaku, maka promosi kesehatan dan PHBS diharapkan dapat melaksanakan strategi yang bersifat paripurna (komprehensif), khususnya dalam menciptakan perilaku baru.
     Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu :

1. Advokasi
     Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa berupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan lain-lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu ”kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat.
Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu
a. mengetahui atau menyadari adanya masalah.
b. tertarik untuk ikut mengatasi masalah.
c.peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternative pemecahan masalah.
d.sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah.
e. memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
     Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat, dan tepat.
Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu :
a. Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi
b. Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
c. Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
d. Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
e. Dikemas secara menarik dan jelas
f. Sesuai dengan waktu yang tersedia.

Langkah-langkah Advokasi
1) Tentukan sasaran yang akan diadvokasi, baik sasaran primer, sekunder atau tersier
2) Siapkan informasi data kesehatan yang menyangkut PHBS di tatanan tempat kerja.
3) Tentukan kesepakatan dimana dan kapan dilakukan advokasi.
4) Lakukan advokasi dengan cara yang menarik dengan menggunakan teknik dan metoda yang tepat.
5) Simpulkan dan sepakati hasil advokasi.
6) Buat ringkasan eksekutif dan sebarluaskan kepada sasaran.

2. Binasuasana
     Binasuasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimana pun ia berada (keluarga di rumah, orangorang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat,khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana, yaitu:
a. Pendekatan Individu
b. Pendekatan Kelompok
c. Pendekatan Masyarakat Umum

Langkah-langkah Pengembangan Bina Suasana :
1) Menganalisis dan mendesain metode dan teknik kegiatan bina suasana, seperti: demonstrasi, pelatihan, sosialisasi, orientasi.
2) Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan dalam bentuk adanya komitmen, dan dukungan sumber daya.
3) Mengembangkan metoda dan teknik dan media yang telah diuji coba dan disempurnakan.
4) Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan.

3. Gerakan Masyarakat
     Gerakan Masyarakat adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Sasaran utama dari Gerakan Masayarakat adalah individu dan keluarga, serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organisation) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan sebagaibantuan,hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Langkah-langkah kegiatan gerakan masyarakat
1) Peningkatan pengetahuan masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan.
2) Menganalisis dan mendisain metode dan teknik kegiatan pemberdaya seperti pelatihan, pengembangan media komunikasi untuk penyuluhan individu, kelompok dan massa, lomba, sarasehan dan lokakarya.
3) Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan dalam bentuk komitmen dan sumber daya.
4) Mengembangkan metoda dan teknik serta media yang telah diujicoba dan disempurnakan.
5) Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan bersama-sama dengan lintas program dan lintas sektor pada tatanan terkait.
6) Menyusun laporan serta menyajikannya dalam bentuk tertulis (ringkasan, eksekutif).

Semoga bermanfaat^^ 
loading...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian PHBS

a. Perilaku Sehat
Adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.
b. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.

c. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

B.  Tujuan PHBS
    PHBS/Promosi Higiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah penyakit menular yang lain melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. Dan dapat melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS.

C. Sasaran PHBS Tatanan Tempat Kerja
       Merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif. Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah, dan sehat.
a. Sasaran primer
       Adalah sasaran utama dalam lingkungan tempat kerja yang akan dirubah perilakunya yaitu seluruh aspek yang ada dalam suatu perusahaan (karyawan dan pemilik perusahaan) yang bermasalah.
b. Sasaran sekunder
       Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu yang bermasalah dalam lingkungan tempat kerja yaitu pemilik perusahaan, mitra kerja
c. Sasaran tersier
       Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS dalam lingkungan perusahaan, yaitu kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, tokoh masyarakat.
Indikator PHBS di tempat kerja antara lain :
Semua PHBS diharapkan dilakukan di tempat kerja. Namun demikian, tempat kerja telah masuk kategori Tempat Kerja Sehat, bila masyarakat pekerja di tempat kerja :
1.      Tidak merokok di tempat kerja
2.      Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.
3.      Melakukan olahraga secara teratur/aktivitas fisik
4.      Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil
5.      Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.
6.      Menggunakan air bersih.
7.      Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.
8.      Membuang sampah pada tempatnya. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan.

D. Strategi Kegiatan PHBS
     Menyadari bahwa perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan juga dimensi ekonomi, yaitu hal-hal yang mendukung perilaku, maka promosi kesehatan dan PHBS diharapkan dapat melaksanakan strategi yang bersifat paripurna (komprehensif), khususnya dalam menciptakan perilaku baru.
     Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu :

1. Advokasi
     Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa berupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan lain-lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu ”kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat.
Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu
a. mengetahui atau menyadari adanya masalah.
b. tertarik untuk ikut mengatasi masalah.
c.peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternative pemecahan masalah.
d.sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah.
e. memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
     Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat, dan tepat.
Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu :
a. Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi
b. Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
c. Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
d. Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
e. Dikemas secara menarik dan jelas
f. Sesuai dengan waktu yang tersedia.

Langkah-langkah Advokasi
1) Tentukan sasaran yang akan diadvokasi, baik sasaran primer, sekunder atau tersier
2) Siapkan informasi data kesehatan yang menyangkut PHBS di tatanan tempat kerja.
3) Tentukan kesepakatan dimana dan kapan dilakukan advokasi.
4) Lakukan advokasi dengan cara yang menarik dengan menggunakan teknik dan metoda yang tepat.
5) Simpulkan dan sepakati hasil advokasi.
6) Buat ringkasan eksekutif dan sebarluaskan kepada sasaran.

2. Binasuasana
     Binasuasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimana pun ia berada (keluarga di rumah, orangorang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat,khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana, yaitu:
a. Pendekatan Individu
b. Pendekatan Kelompok
c. Pendekatan Masyarakat Umum

Langkah-langkah Pengembangan Bina Suasana :
1) Menganalisis dan mendesain metode dan teknik kegiatan bina suasana, seperti: demonstrasi, pelatihan, sosialisasi, orientasi.
2) Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan dalam bentuk adanya komitmen, dan dukungan sumber daya.
3) Mengembangkan metoda dan teknik dan media yang telah diuji coba dan disempurnakan.
4) Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan.

3. Gerakan Masyarakat
     Gerakan Masyarakat adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Sasaran utama dari Gerakan Masayarakat adalah individu dan keluarga, serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organisation) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan sebagaibantuan,hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Langkah-langkah kegiatan gerakan masyarakat
1) Peningkatan pengetahuan masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan.
2) Menganalisis dan mendisain metode dan teknik kegiatan pemberdaya seperti pelatihan, pengembangan media komunikasi untuk penyuluhan individu, kelompok dan massa, lomba, sarasehan dan lokakarya.
3) Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan dalam bentuk komitmen dan sumber daya.
4) Mengembangkan metoda dan teknik serta media yang telah diujicoba dan disempurnakan.
5) Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan bersama-sama dengan lintas program dan lintas sektor pada tatanan terkait.
6) Menyusun laporan serta menyajikannya dalam bentuk tertulis (ringkasan, eksekutif).

Semoga bermanfaat^^ 
loading...

Jumat, 15 September 2017

METODE CERITA KESEHATAN DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN

PENDIDIKAN KESEHATAN
METODE CERITA KESEHATAN
Untuk memenuhi tugas promosi kesehatan




Disusun oleh :
Kelompok 8
1.      Ahmad Rafiqi                      (PO.62.20.1.16.003)
2.      Eka Ayu Meylina                 (PO.62.20.1.16.016)
3.      Hawineyni Syoretta             (PO.62.20.1.16.020)
4.      Muhammad Fansuri             (PO.62.20.1.16.026)
5.      Putri Aisyah Amini              (PO.62.20.1.16.034)
6.      Yentri                                   (PO.62.20.1.16.048)





DEPARTEMEN KEMENTRIAN KESEHATAN
POLTEKKES KEMNKES PALANGKARAYA
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN REGULAR XIX
2017



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Metode berasal dari bahasa yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Menurut Slameto (2010:82), Metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan belaja yang telah ditetapkan. Menurut Syaiful Bhari dan Aswan  (2010:46), metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Cerita adalah karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan tentang suatu peristiwa, disajikan secara singkat. Cerita dapat juga dikatakan sebagai buah dari pemikiran dan rasa yang disampaikan dengan gaya bahasa yang bervariasi dengan maksud tertentu. Cerita anak adalah cerita yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh budi pekerti yang baik.
Metode cerita dipilih sebagai salah satu metode pendidikan kesehatan dikarenakan metode cerita dapat menjadi sebuah alat komunukasi berbagai jenis informasi budaya , agama, kesehatan dan lain sebagainya, selain itu juga melatih daya tanggap anak, mengembangkan fanstasi dan kognitif anak, dan dapat menanamkan suatu perilaku yang positif sejak dini(Dhieni, 2008). Sebuah metode cerita agar dapat menarik perhatian seorang anak harus didukung dengan sebuahmedia seperti bentuk gambar yang menarik (Gunarti, 2010).
Metode cerita sangatlah ditekankan dalam pembelajaran pada anak usia dini, mengingat usia mereka yang masih sangat senang mendengarkan, bermain dan menerima semua pengetahuan dari pendidik semata. Pendidik memberikan cerita yang dapat menumbuhkan pengetahuan baru bagi siswa. Hal ini dengan ditanamkan nilai-nilai positif sehingga ke depan siswa dapat menerima pengetahuan dengan baik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Pengertian Metode Cerita Kesehatan

Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.(Wikipedia)
Hebert Bisno (1968) metode adalah teknik-teknik yang digeneralisasikan dengan baik agar dapat diterima atau dapat diterapkan secara sama dalam sebuah praktek, atau bidang disiplin dan praktek.
Heri Rahyubi (2012: 236) mengartika “metode adalah suatu model cara yang dapat dilakukan untuk menggelar aktivitas belajar-mengajar agar berjalan dengan baik”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 210) cerita adalah: Tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal atau peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian tersebut sungguh-sungguh atau rekaan.
Cerita adalah karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan tentang suatu peristiwa, disajikan secara singkat. Cerita dapat juga dikatakan sebagai buah dari pemikiran dan rasa yang disampaikan dengan gaya bahasa yang bervariasi dengan maksud tertentu. Cerita anak adalah cerita yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh budi pekerti yang baik.
Metode cerita kesehatan adalah teknik atau suatu model cara belajar yang dapat diterima yang membentuk pemikiran tentang suatu peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian yang sungguh atau rekaan yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, mengetahui makanan dan hidup yang sehat.


B.   Tujuan Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Adapun tujuan metode cerita dalam pendidikan kesehatan yaitu menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, kesehatan dan agama yang terkandung dalam sebuah metode cerita kesehatan, sehingga dapat menghayati dan menjalankan atau mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral berkaitan dengan bagaimana seharusnya sikap moral seseorang yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai agama berkaitan dengan bagaimana seharusnya seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan pada ajaran agama yang diyakininya. Nilai kesehatan berkaitan dengan bagaimana seharusnya hidup sehat dalam sehari-hari.
Ada pun tujuan cerita dalam pendidikan kesehatan :
1.      Mengembangkan kemampuan seseorang dalam mentafsirkan peristiwa yang ada diluar pengalaman langsung.
2.      Menarik dan mengarahkan perhatian untuk konsentrasi pada isi materi yang disampaikan, ditampilkan dan diceritakan. Memperluas pemahaman dan daya imajinasi.
3.      Mempermudah menjelaskan suatu masalah kesehatan dikehidupan melalui cerita.
4.      Mengembangkan  kemampuan menyimak dan mendengar aktif.
5.      Memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam cerita.
6.      Mengembangkan sikap positif terhadap suatu hal.

Berupa langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistimatis dalam metode cerita :
Menetapkan tema dan tujuan cerita
Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih
Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
Menetapkan rancangan langkah-langkah dengan mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita, mengatur tempat duduk, melaksanakan kegiatan pembukaan, mengembangkan cerita, menetapkan teknik bertutur, dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.

C.   Manfaat Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Manfaat Metode Cerita dalam Pendidikan Kesehatan, antara lain :
1.      Kemampuan seseorang dalam menafsirkan peristiwa yang ada diluar pengalaman langsung, menjadi lebih berkembang
2.      Memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam cerita
3.      Kemampuan menyimak dan mendengar aktif lebih berkembang
4.      Membantu untuk mengorganisasikan informasi dalam cerita dan mengingatnya kembali
5.      Dapat digunakan untuk menjelaskan suatu masalah kesehatan dikehidupan, bernilai ekonomis, dan mudah dijangkau.
6.      Mudah digunakan baik dalam individu atau pun kelompok.
Manfaat cerita bagi usia anak, yaitu:
1.      Bagi anak usia dini mendengarkan cerita yang menarik yang dekat dengan lingkungangnya merupakan kegiatan yang mengasikan.
2.      Dalam ceritaa guru dapat menanamkan kejujuran, keberanian, kesetiaan, keramahan,ketulusan, cinta kasih sayang dan sikap positif terhadap keadaan sekitar atau lingkungannya baik lingkungan keluarga atau lingkungan sekolah dan luar sekolah.
3.      Memberikan sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral, kesehatan  dan keagamaan.
4.      Memberikan pengalaman untuk belajar dan berlatih mendengarkan
5.      Memungkinkan anak untuk mengembangkan kognitif efektif maupun psikomotorik.
6.      Memungkinkan dimensi perasaan anak.
7.      Memberikan informasi dalam berbagai macam cara.

D.    Sasaran Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Adapun sasaran metode cerita :
a.     Anak (umur 4-12 tahun) bahasa harus jelas, lugas, singkat, kosa kata sederhana, menampilkan unsur pendidikan, panutan, kebajikan, nilai-nilai moral, fantasi yang baik dan terhibur.
b.     Remaja (umur 13-17 tahun) tulisan bisa menggunakan bahasa dengan kosakata yang lebih rumit, seputar kehidupan remaja, tentang mencari jati diri, hubungan dengan orangtua, guru , persahabatan, cita-cita, ajaran moral, etika , agama, disarankan agar menjauhil segala hal yang negatif seperti pergaulan bebas dan narkoba.
c.      Dewasa segala jenis bahasa dan segala jenis tema, tapi tetap pada batas-batas norma yang baik, tidak sadis, brutal atau vulgar. intinya tetap yang kita tulis harus bernilai positif dan baik , jangan sampai mempengaruhi polafirkir pembaca jadi rusak, bahkan jadi berdampak buruk bagi pembaca.
d.     Umum ini cerita segala usia, misalnya tentang kisah pahlawan, budi pekerti luhur, dan lain-lain.

E.    Teknik pelaksanaan metode cerita pendidikan kesehatan

Pendidik atau penyuluh perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian materi sehingga terjadi harmoni yang tepat.
Secara garis besar unsur-unsur penyajian materi dalam metode cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut :
1.      Narasi
2.      Dialog
3.      Ekspresi (terutama mimik muka)
4.      Visualisasi gerak/Peragaan (acting)
5.      Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim
6.      Media/alat peraga (bila ada)
7.      Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
Pada saat menggunakan metode bercerita, guru dapat menggunakan teknik-teknik berikut ini:
·         Teknik bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita
·         Teknik bercerita dengan menggunakan ilustrasi dari buku
·         Teknik bercerita dongeng
·         Teknik bercerita dengan papan flanel
·         Teknik bercerita dengan menggunakan boneka

F.    Kelebihan dan kekurangan metode cerita kesehatan pada pendidikan kesehatan

Metode cerita sangat umum digunakan dalam pendidikan kesehatan pada usia dini, khusus dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan kepada anak. Adapun kelebihan dari metode ini adalah dapat meningkatkan motivasi anak untuk belajar, karena anak sangat senang dengan cerita-cerita. Sangat sesuai untuk pendidikan afektif (nilai), sebab metode ini dapat menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak melalui conto-contoh dalam cerita sehingga mendorong anak-anak untuk melalukan tersebut, sekaligus menghindari perbuatan yang kurang baik. Tidak membutuhkan banyak alat dan media lain.
Adapun kelemahannya antara lain, dalam metode pendidikan ini biasanya pemberi materi lebih dominan, sehingga peran aktif anak (sasaran) terbatas. Oleh karena itu pemberi materi harus mampu mengkolaborasikan metode ini dengan metode-metode yang lainnya seperti tanya jawab dan lainnya. Pemberi materi dituntut untuk benar-benar menguasi metode cerita yang baik, sehingga anak dapat tertarik dengan cerita yang dibawaakan sekaligus pesan atau informasi yang ingin disampaikan akan diterima anak dengan baik.

BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Metode cerita kesehatan adalah teknik atau suatu model cara belajar yang dapat diterima yang membentuk pemikiran tentang suatu peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian yang sungguh atau rekaan yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, mengetahui makanan dan hidup yang sehat.
Metode cerita dipilih sebagai salah satu metode pendidikan kesehatan dikarenakan metode cerita dapat menjadi sebuah alat komunukasi berbagai jenis informasi budaya , agama, kesehatan dan lain sebagainya, selain itu juga melatih daya tangga panak, mengembangkan fanstasi dan kognitif anak, dan dapat menanamkan suatu perilaku yang positif sejak dini (Dhieni, 2008). Sebuah metode cerita agar dapat menarik perhatian seorang anak harus didukung dengan sebuah media seperti bentuk gambar yang menarik (Gunarti, 2010).
Metode cerita sangatlah ditekankan dalam pembelajaran pada anak usia dini, mengingat usia mereka yang masih sangat senang mendengarkan, bermain dan menerima semua pengetahuan dari pendidik semata. Penyuluh memberikan cerita yang dapat menumbuhkan pengetahuan baru bagi siswa. Hal ini dengan ditanamkan nilai-nilai positif sehingga kedepan siswa dapat menerima pengetahuan dengan baik.
Tujuan metode cerita dalam pendidikan kesehatan yaitu menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, kesehatan dan agama yang terkandung dalam sebuah metode cerita kesehatan, sehingga dapat menghayati dan menjalankan atau mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Metode cerita dalam pendidikan kesehatan sangat berguna . Menggunakan metode cerita anak diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut ,selain itu kegiatan cerita dilakukan dengan menggunakan media atau alat peraga yang menarik karena sebuah cerita akan lebih menarik apabila penyampaiannya menggunakan media atau alat peraga.

B.   Saran

Metode cerita sangat umum digunakan dalam pendidikan kesehatan pada usia dini, khusus dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan kepada anak. Metode cerita kesehatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Walaupun tidak alat dan media lainnya.

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.


DAFTAR PUSTAKA

Notoadmodjo, S. 2007. PromosiKesehatandanIlmuPerilaku. Jakarta: RinekaCipta
http://www.duniapendidikan.web.id/2016/08/pengertian-metode-cerita-dan-fungsi-metode-cerita-untuk-anak-anak.html
https://belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampilajar.php?ver=12&idmateri=188&lvl1=3&lvl2=1&lvl3=0&kl=7
https://muhfathurrohman.wordpress.com/tag/tujuan-metode-cerita/
https://id.wikipedia.org/wiki/Metode
https://lagipengennulis.wordpress.com/2016/07/01/cara-menentukan-sasaran-cerita-dalam-menulis/
http://www.asikbelajar.com/2015/06/manfaat-dan-tujuan-cerita-bagi-anak.html
https://badkomergangsan.wordpress.com/2010/03/20/teknik-bercerita-untuk-anak-usia-dini-kak-bimo-master-dongeng-indonesia/
https://www.asikbelajar.com/2015/08/kelebihan -dan-kelemahan-pada metode.html?m=1


Semoga bermanfaat^^ 
loading...
PENDIDIKAN KESEHATAN
METODE CERITA KESEHATAN
Untuk memenuhi tugas promosi kesehatan




Disusun oleh :
Kelompok 8
1.      Ahmad Rafiqi                      (PO.62.20.1.16.003)
2.      Eka Ayu Meylina                 (PO.62.20.1.16.016)
3.      Hawineyni Syoretta             (PO.62.20.1.16.020)
4.      Muhammad Fansuri             (PO.62.20.1.16.026)
5.      Putri Aisyah Amini              (PO.62.20.1.16.034)
6.      Yentri                                   (PO.62.20.1.16.048)





DEPARTEMEN KEMENTRIAN KESEHATAN
POLTEKKES KEMNKES PALANGKARAYA
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN REGULAR XIX
2017



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Metode berasal dari bahasa yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Menurut Slameto (2010:82), Metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan belaja yang telah ditetapkan. Menurut Syaiful Bhari dan Aswan  (2010:46), metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Cerita adalah karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan tentang suatu peristiwa, disajikan secara singkat. Cerita dapat juga dikatakan sebagai buah dari pemikiran dan rasa yang disampaikan dengan gaya bahasa yang bervariasi dengan maksud tertentu. Cerita anak adalah cerita yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh budi pekerti yang baik.
Metode cerita dipilih sebagai salah satu metode pendidikan kesehatan dikarenakan metode cerita dapat menjadi sebuah alat komunukasi berbagai jenis informasi budaya , agama, kesehatan dan lain sebagainya, selain itu juga melatih daya tanggap anak, mengembangkan fanstasi dan kognitif anak, dan dapat menanamkan suatu perilaku yang positif sejak dini(Dhieni, 2008). Sebuah metode cerita agar dapat menarik perhatian seorang anak harus didukung dengan sebuahmedia seperti bentuk gambar yang menarik (Gunarti, 2010).
Metode cerita sangatlah ditekankan dalam pembelajaran pada anak usia dini, mengingat usia mereka yang masih sangat senang mendengarkan, bermain dan menerima semua pengetahuan dari pendidik semata. Pendidik memberikan cerita yang dapat menumbuhkan pengetahuan baru bagi siswa. Hal ini dengan ditanamkan nilai-nilai positif sehingga ke depan siswa dapat menerima pengetahuan dengan baik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Pengertian Metode Cerita Kesehatan

Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.(Wikipedia)
Hebert Bisno (1968) metode adalah teknik-teknik yang digeneralisasikan dengan baik agar dapat diterima atau dapat diterapkan secara sama dalam sebuah praktek, atau bidang disiplin dan praktek.
Heri Rahyubi (2012: 236) mengartika “metode adalah suatu model cara yang dapat dilakukan untuk menggelar aktivitas belajar-mengajar agar berjalan dengan baik”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 210) cerita adalah: Tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal atau peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian tersebut sungguh-sungguh atau rekaan.
Cerita adalah karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan tentang suatu peristiwa, disajikan secara singkat. Cerita dapat juga dikatakan sebagai buah dari pemikiran dan rasa yang disampaikan dengan gaya bahasa yang bervariasi dengan maksud tertentu. Cerita anak adalah cerita yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh budi pekerti yang baik.
Metode cerita kesehatan adalah teknik atau suatu model cara belajar yang dapat diterima yang membentuk pemikiran tentang suatu peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian yang sungguh atau rekaan yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, mengetahui makanan dan hidup yang sehat.


B.   Tujuan Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Adapun tujuan metode cerita dalam pendidikan kesehatan yaitu menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, kesehatan dan agama yang terkandung dalam sebuah metode cerita kesehatan, sehingga dapat menghayati dan menjalankan atau mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral berkaitan dengan bagaimana seharusnya sikap moral seseorang yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai agama berkaitan dengan bagaimana seharusnya seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan pada ajaran agama yang diyakininya. Nilai kesehatan berkaitan dengan bagaimana seharusnya hidup sehat dalam sehari-hari.
Ada pun tujuan cerita dalam pendidikan kesehatan :
1.      Mengembangkan kemampuan seseorang dalam mentafsirkan peristiwa yang ada diluar pengalaman langsung.
2.      Menarik dan mengarahkan perhatian untuk konsentrasi pada isi materi yang disampaikan, ditampilkan dan diceritakan. Memperluas pemahaman dan daya imajinasi.
3.      Mempermudah menjelaskan suatu masalah kesehatan dikehidupan melalui cerita.
4.      Mengembangkan  kemampuan menyimak dan mendengar aktif.
5.      Memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam cerita.
6.      Mengembangkan sikap positif terhadap suatu hal.

Berupa langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistimatis dalam metode cerita :
Menetapkan tema dan tujuan cerita
Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih
Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita.
Menetapkan rancangan langkah-langkah dengan mengkomunikasikan tujuan dan tema cerita, mengatur tempat duduk, melaksanakan kegiatan pembukaan, mengembangkan cerita, menetapkan teknik bertutur, dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.

C.   Manfaat Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Manfaat Metode Cerita dalam Pendidikan Kesehatan, antara lain :
1.      Kemampuan seseorang dalam menafsirkan peristiwa yang ada diluar pengalaman langsung, menjadi lebih berkembang
2.      Memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam cerita
3.      Kemampuan menyimak dan mendengar aktif lebih berkembang
4.      Membantu untuk mengorganisasikan informasi dalam cerita dan mengingatnya kembali
5.      Dapat digunakan untuk menjelaskan suatu masalah kesehatan dikehidupan, bernilai ekonomis, dan mudah dijangkau.
6.      Mudah digunakan baik dalam individu atau pun kelompok.
Manfaat cerita bagi usia anak, yaitu:
1.      Bagi anak usia dini mendengarkan cerita yang menarik yang dekat dengan lingkungangnya merupakan kegiatan yang mengasikan.
2.      Dalam ceritaa guru dapat menanamkan kejujuran, keberanian, kesetiaan, keramahan,ketulusan, cinta kasih sayang dan sikap positif terhadap keadaan sekitar atau lingkungannya baik lingkungan keluarga atau lingkungan sekolah dan luar sekolah.
3.      Memberikan sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral, kesehatan  dan keagamaan.
4.      Memberikan pengalaman untuk belajar dan berlatih mendengarkan
5.      Memungkinkan anak untuk mengembangkan kognitif efektif maupun psikomotorik.
6.      Memungkinkan dimensi perasaan anak.
7.      Memberikan informasi dalam berbagai macam cara.

D.    Sasaran Metode Cerita Dalam Pendidikan Kesehatan

Adapun sasaran metode cerita :
a.     Anak (umur 4-12 tahun) bahasa harus jelas, lugas, singkat, kosa kata sederhana, menampilkan unsur pendidikan, panutan, kebajikan, nilai-nilai moral, fantasi yang baik dan terhibur.
b.     Remaja (umur 13-17 tahun) tulisan bisa menggunakan bahasa dengan kosakata yang lebih rumit, seputar kehidupan remaja, tentang mencari jati diri, hubungan dengan orangtua, guru , persahabatan, cita-cita, ajaran moral, etika , agama, disarankan agar menjauhil segala hal yang negatif seperti pergaulan bebas dan narkoba.
c.      Dewasa segala jenis bahasa dan segala jenis tema, tapi tetap pada batas-batas norma yang baik, tidak sadis, brutal atau vulgar. intinya tetap yang kita tulis harus bernilai positif dan baik , jangan sampai mempengaruhi polafirkir pembaca jadi rusak, bahkan jadi berdampak buruk bagi pembaca.
d.     Umum ini cerita segala usia, misalnya tentang kisah pahlawan, budi pekerti luhur, dan lain-lain.

E.    Teknik pelaksanaan metode cerita pendidikan kesehatan

Pendidik atau penyuluh perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian materi sehingga terjadi harmoni yang tepat.
Secara garis besar unsur-unsur penyajian materi dalam metode cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut :
1.      Narasi
2.      Dialog
3.      Ekspresi (terutama mimik muka)
4.      Visualisasi gerak/Peragaan (acting)
5.      Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim
6.      Media/alat peraga (bila ada)
7.      Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
Pada saat menggunakan metode bercerita, guru dapat menggunakan teknik-teknik berikut ini:
·         Teknik bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita
·         Teknik bercerita dengan menggunakan ilustrasi dari buku
·         Teknik bercerita dongeng
·         Teknik bercerita dengan papan flanel
·         Teknik bercerita dengan menggunakan boneka

F.    Kelebihan dan kekurangan metode cerita kesehatan pada pendidikan kesehatan

Metode cerita sangat umum digunakan dalam pendidikan kesehatan pada usia dini, khusus dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan kepada anak. Adapun kelebihan dari metode ini adalah dapat meningkatkan motivasi anak untuk belajar, karena anak sangat senang dengan cerita-cerita. Sangat sesuai untuk pendidikan afektif (nilai), sebab metode ini dapat menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak melalui conto-contoh dalam cerita sehingga mendorong anak-anak untuk melalukan tersebut, sekaligus menghindari perbuatan yang kurang baik. Tidak membutuhkan banyak alat dan media lain.
Adapun kelemahannya antara lain, dalam metode pendidikan ini biasanya pemberi materi lebih dominan, sehingga peran aktif anak (sasaran) terbatas. Oleh karena itu pemberi materi harus mampu mengkolaborasikan metode ini dengan metode-metode yang lainnya seperti tanya jawab dan lainnya. Pemberi materi dituntut untuk benar-benar menguasi metode cerita yang baik, sehingga anak dapat tertarik dengan cerita yang dibawaakan sekaligus pesan atau informasi yang ingin disampaikan akan diterima anak dengan baik.

BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Metode cerita kesehatan adalah teknik atau suatu model cara belajar yang dapat diterima yang membentuk pemikiran tentang suatu peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian yang sungguh atau rekaan yang dikemas untuk didengarkan anak-anak biasanya berisi ajaran moral, keteladanan, dan contoh menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, mengetahui makanan dan hidup yang sehat.
Metode cerita dipilih sebagai salah satu metode pendidikan kesehatan dikarenakan metode cerita dapat menjadi sebuah alat komunukasi berbagai jenis informasi budaya , agama, kesehatan dan lain sebagainya, selain itu juga melatih daya tangga panak, mengembangkan fanstasi dan kognitif anak, dan dapat menanamkan suatu perilaku yang positif sejak dini (Dhieni, 2008). Sebuah metode cerita agar dapat menarik perhatian seorang anak harus didukung dengan sebuah media seperti bentuk gambar yang menarik (Gunarti, 2010).
Metode cerita sangatlah ditekankan dalam pembelajaran pada anak usia dini, mengingat usia mereka yang masih sangat senang mendengarkan, bermain dan menerima semua pengetahuan dari pendidik semata. Penyuluh memberikan cerita yang dapat menumbuhkan pengetahuan baru bagi siswa. Hal ini dengan ditanamkan nilai-nilai positif sehingga kedepan siswa dapat menerima pengetahuan dengan baik.
Tujuan metode cerita dalam pendidikan kesehatan yaitu menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, kesehatan dan agama yang terkandung dalam sebuah metode cerita kesehatan, sehingga dapat menghayati dan menjalankan atau mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Metode cerita dalam pendidikan kesehatan sangat berguna . Menggunakan metode cerita anak diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut ,selain itu kegiatan cerita dilakukan dengan menggunakan media atau alat peraga yang menarik karena sebuah cerita akan lebih menarik apabila penyampaiannya menggunakan media atau alat peraga.

B.   Saran

Metode cerita sangat umum digunakan dalam pendidikan kesehatan pada usia dini, khusus dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan kepada anak. Metode cerita kesehatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Walaupun tidak alat dan media lainnya.

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.


DAFTAR PUSTAKA

Notoadmodjo, S. 2007. PromosiKesehatandanIlmuPerilaku. Jakarta: RinekaCipta
http://www.duniapendidikan.web.id/2016/08/pengertian-metode-cerita-dan-fungsi-metode-cerita-untuk-anak-anak.html
https://belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampilajar.php?ver=12&idmateri=188&lvl1=3&lvl2=1&lvl3=0&kl=7
https://muhfathurrohman.wordpress.com/tag/tujuan-metode-cerita/
https://id.wikipedia.org/wiki/Metode
https://lagipengennulis.wordpress.com/2016/07/01/cara-menentukan-sasaran-cerita-dalam-menulis/
http://www.asikbelajar.com/2015/06/manfaat-dan-tujuan-cerita-bagi-anak.html
https://badkomergangsan.wordpress.com/2010/03/20/teknik-bercerita-untuk-anak-usia-dini-kak-bimo-master-dongeng-indonesia/
https://www.asikbelajar.com/2015/08/kelebihan -dan-kelemahan-pada metode.html?m=1


Semoga bermanfaat^^ 
loading...

METODE NEGOISASI DALAM PROMOSI KESEHATAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Tanpa kita sadari, setiap hari kita sesungguhnya selalu melakukan negosiasi. Negosiasi adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita. Selain itu negosiasi adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan.
Negosiasi diperlulan karena negosiasi karena untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan,untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama,untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masing-masing pihak merasa menang (win-win solution).

Negosiasi adalah proses mencari suatu kesepakatan atau perjanjian agar saling menguntungkan kedua belah pihak. Berikut ini beberapa alasan untuk terjadinya negosiasi antara lain :
1. Adanya konflik yang harus diselesaikan dengan matang.
2. Adanya suatu ketergantungan disetiap kelompok.
3. Sasaran yang ingin dituju.
4. Adanya kesamaan tema dalam masalah bernegosiasi.
5. Kedua belah pihak menjalin kerja sama.
6. Untuk mengkonkritkan masalah yang masih abstrak.
7. Mencari keuntungan bagi kedua belah pihak.
8. Adanya ide – ide yang harus disampaikan kepada belah dua pihak.
9. Adanya sikap tidak mau kalah, semua orang tidak mau ditindas dan dipaksa.

Jadi kita semua pada dasarnya adalah negosiator. Beberapa dari kita melakukannya dengan baik, sedangkan sebagian lagi tidak pernah memenangkan negosiasi. Sebagian kita hanya menjadi pengikut atau selalu mengikuti dan mengakomodasi kepentingan orang lain. Negosiasi dilakukan oleh semua manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Mulai dari anak kecil sampai orang tua, semua lapisan dari kalangan sosial terbawah sampai dengan kaum elit di kalangan atas.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Negosiasi


Secara umum kata "negosiasi" berasal dari kata to negotiate, to be negotiating dalam bahasa inggris yang berarti "merundingkan, membicarakan kemungkinan tentang suatu kondisi, dan atau menawar". Sedangkan kata-kata turunanya adalah antara lain "negotiation" yang berarti "menunjukkan suatu proses atau aktivitas untuk merundingkan, membicarakan sesuatu hal untuk disepakati dengan orang lain", dan "negotiable" yang berarti "dapat dirundingkan, dapat dibicarakan, dapat ditawar".

Phil Baguley dalam bukunya yang berjudul Teach Yourself Negotiating mendefinisikan negosiasi sebagai suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati atau diterima oleh kedua belah pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang.

Adapun menurut Oliver, negosiasi adalah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Dari kedua definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa negosiasi adalah sebuah cara yang dilakukan sekelompok orang untuk membuat dan menetapkan keputusan dalam suatu hal, yang akhirnya dapat disepakati bersama. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak, sehingga terjadi proses saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.

Dari kedua definisi tentang negosiasi tersebut, dapat ditarik sejumlah hal yang menjadi karakteristik negosiasi antara lain sebagai berikut :
·Senantiasa melibatkan orang, baik secara individu maupun perwakilan dari suatu organisasi atau perusahaan.
·Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi.
·Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu baik berupa tawar-menawar (bergain) maupun tukar menukar (barter).
·Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh, maupun ekspresi wajah.
·Menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan diinginkan untuk terjadi.
·Adanya ujung negosiasi yang berupa kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, baik kedua belah saling sepakat, ataupun kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

B.     Manfaat Negosiasi


·         Menyatukan pendapat
Manfaat negosiasi yang pertama adalah untuk menyatukan pendapat. Dalam sebuah konflik atau proses tawar menawar pastinya akan terjadi beberapa pendapat yang berbeda. Masing-masing pihak bisa saja kekeh dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapat pihak lainnya. jika ini terjadi maka dibutuhkan pihak ketiga sebagai pihak penengah yang mampu menyatukan pendapat dari semua pihak yang terlibat dalam negosiasi. Proses ini penting karena jika tidak ada negosiasi maka bisa terjadi konflik berkepanjangan dari semua pihak yang terlibat nantinya
·         Mencapai kata sepakat
Manfaat dari negosiasi lainnya adalah untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat dalam dari semua pihak yang bernegosiasi. Misalnya saja penjual dan pembeli melakukan negosiasi mengenai harga barang. Pembeli dan penjual sudah memiliki harga harapan masing-masing namun dengan adanya negosiasi atau tawar menawar ini kemudian harga bisa mencapai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Ini tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak bukan?
·          Menyelesaikan masalah
Jika anda mengalami masalah dengan orang lain maka harus segera diselesaikan baik itu masalah kecil apalagi masalah besar. Untuk dapat menyelesaikan masalah bisa dilakukan dengan cara negosiasi. Negosiasi ini bisa anda lakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain tergantung dari masalah yang dihadapi. Jika masalah yang terjadi adalah masalah hukum maka semua pihak harus menyelesaikan masalah di pengadilan yang mengakomodasi masalah hukum. Hakim sebagai pihak penengah akan memberikan keputusan dan solusi kepada pihak-pihak yang bermasalah.
·         Menjalin kerja sama
Negosiasi juga bisa bermanfaat untuk menjalin kerja sama. Misalnya saja perusahaan yang melakukan negosiasi denga perusahaan lainnya supaya mereka bisa melakukan kerja sama. Kerja sama ini tentunya yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak. Adanya saling pengertian dan kepercayaan ini menjadi dasar kerja sama dari kedua perusahaan ini. jadi dengan adanya negosiasi ini juga bisa mengembangkan perekonomian secara lebih luas bahkan nasional. Negosiasi yang bertujuan untuk menjalin kerja sama ini sudah lazim di dunia bisnis namun biasanya untuk bisnis besar mereka menggunakan kerja sama hitam di atas putih supaya jika salah satu pihak ada yang melanggar bisa dipidanak

C.     Tujuan Negosiasi


Tujuan negoisasi adalah sebagai beriku
Mempelajari tawaran klien / seseorang
Menawarkan suatu solusi permasalaha untuk menyelesaikan konflik kepentingan dan permasalahan

D.    Sasaran Negosiasi


1.      Antara dua orang
Misalnya: pada saat manajer dan bawahannya memutuskan tanggal penyelesaian proyek yang harus diselesaikan oleh bawahan.
2.   Dalam kelompok
Misalnya: untuk mengambil keputusan kelompok atas suatu kasus.

E.     Tehnik Pelaksanaan Negosiasi


Langkah-langkah dalam melakukan negosiasi:
1.      Persiapan
Pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang
 ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita dapat
membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki
pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya. Hal
kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental kita.
2.       Pembukaan
Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu pleasant
(menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Berikut
ada beberapa tahapan dalam mengawali sebuah negosiasi:
1.      Jangan memegang apa pun di tangan kanan Anda ketika memasuki ruangan negosiasi.
2.      Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dahulu.
3.      Jabat tangan dengan tegas dan singkat.
4.      Beri senyum dan katakan sesuatu yang tepat untuk mengawali pembicaraan.

3.      Memulai proses negosiasi
Langkah pertama yang memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:
1.      Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi.
2.      Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri.
3.      Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka.
4.      Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar  dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak.
5.      Sampaikan bahwa “jika mereka memberi Anda ini, Anda akan memberi mereka itu” sehingga mereka mengerti dengan  jelas apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.
6.      Hal kedua dalam tahap permulaan proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain.

4.       Zona tawar menawar
Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar-menawar, kita perlu mengetahui apa itu the bargaining zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual dan tawaran awal oleh pembeli.

5.      Membangun kesepakatan
Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya. Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan bila sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan.

F.     Kelebihan dan Kekurangan dari Negosiasi


Kekurangan :
a.       Tidak dapat berjalan tanpa adanya kesepakatan dari keduabelah pihak;
b.      Tidak efektif jika dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang mengambil kesepakatan;
c.       Sulit berjalan apabila posisi para pihak tidak seimbang;
d.      Memungkinkan diadakan untuk menunda penyelesaian untuk mengetahui informasi yang dirahasiakan lawan;
e.       Dapat membuka kekuatan dan kelemahan salah satu pihak;
f.       Dapat membuat kesepakatan yang kurang menguntungkan;

Kelebihan:
a.         Negosiasi memberi peluang yang sangat luas bagi para pihak untuk menentukan pilihan-pilihannya
b.        Tidak bergantung pada norma hokum tertulis
c.         Dapat memberikan ruang bagi para pihak untuk bisa menang secara bersama-sama.
d.        semua pihak memperoleh kesempatan untuk menjelaskan berbagai persoalan dalam proses negosiasi.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Phil Baguley dalam bukunya yang berjudul Teach Yourself Negotiating mendefinisikan negosiasi sebagai suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati atau diterima oleh kedua belah pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Negosiasi terdiri dari 5 tahapan yaitu persiapan,pembukaan, memulai proses negosiasi, zona tawar-menawar, dan membangun kesepakatan.

B.     Saran

Dalam bernegosiasi diperlukan seseorang yang mampu melihat peluang, sabar, dan memiliki daya sensitifikasi sosial yang tinggi. Sebelum melakukan negosiasi hendaknya seorang negosiator mempelajari situasi yang ada. Dalam bernegosiasi seorang negosiator jangan memberikan harga yang tinggi dari harga yang sebenarnya, dan negosiator janganlah menawar harga jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan.

Semoga bermanfaat^^ 
loading...
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Tanpa kita sadari, setiap hari kita sesungguhnya selalu melakukan negosiasi. Negosiasi adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita. Selain itu negosiasi adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan.
Negosiasi diperlulan karena negosiasi karena untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan,untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama,untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masing-masing pihak merasa menang (win-win solution).

Negosiasi adalah proses mencari suatu kesepakatan atau perjanjian agar saling menguntungkan kedua belah pihak. Berikut ini beberapa alasan untuk terjadinya negosiasi antara lain :
1. Adanya konflik yang harus diselesaikan dengan matang.
2. Adanya suatu ketergantungan disetiap kelompok.
3. Sasaran yang ingin dituju.
4. Adanya kesamaan tema dalam masalah bernegosiasi.
5. Kedua belah pihak menjalin kerja sama.
6. Untuk mengkonkritkan masalah yang masih abstrak.
7. Mencari keuntungan bagi kedua belah pihak.
8. Adanya ide – ide yang harus disampaikan kepada belah dua pihak.
9. Adanya sikap tidak mau kalah, semua orang tidak mau ditindas dan dipaksa.

Jadi kita semua pada dasarnya adalah negosiator. Beberapa dari kita melakukannya dengan baik, sedangkan sebagian lagi tidak pernah memenangkan negosiasi. Sebagian kita hanya menjadi pengikut atau selalu mengikuti dan mengakomodasi kepentingan orang lain. Negosiasi dilakukan oleh semua manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Mulai dari anak kecil sampai orang tua, semua lapisan dari kalangan sosial terbawah sampai dengan kaum elit di kalangan atas.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Negosiasi


Secara umum kata "negosiasi" berasal dari kata to negotiate, to be negotiating dalam bahasa inggris yang berarti "merundingkan, membicarakan kemungkinan tentang suatu kondisi, dan atau menawar". Sedangkan kata-kata turunanya adalah antara lain "negotiation" yang berarti "menunjukkan suatu proses atau aktivitas untuk merundingkan, membicarakan sesuatu hal untuk disepakati dengan orang lain", dan "negotiable" yang berarti "dapat dirundingkan, dapat dibicarakan, dapat ditawar".

Phil Baguley dalam bukunya yang berjudul Teach Yourself Negotiating mendefinisikan negosiasi sebagai suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati atau diterima oleh kedua belah pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang.

Adapun menurut Oliver, negosiasi adalah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Dari kedua definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa negosiasi adalah sebuah cara yang dilakukan sekelompok orang untuk membuat dan menetapkan keputusan dalam suatu hal, yang akhirnya dapat disepakati bersama. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak, sehingga terjadi proses saling memberi dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.

Dari kedua definisi tentang negosiasi tersebut, dapat ditarik sejumlah hal yang menjadi karakteristik negosiasi antara lain sebagai berikut :
·Senantiasa melibatkan orang, baik secara individu maupun perwakilan dari suatu organisasi atau perusahaan.
·Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi.
·Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu baik berupa tawar-menawar (bergain) maupun tukar menukar (barter).
·Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh, maupun ekspresi wajah.
·Menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan diinginkan untuk terjadi.
·Adanya ujung negosiasi yang berupa kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, baik kedua belah saling sepakat, ataupun kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

B.     Manfaat Negosiasi


·         Menyatukan pendapat
Manfaat negosiasi yang pertama adalah untuk menyatukan pendapat. Dalam sebuah konflik atau proses tawar menawar pastinya akan terjadi beberapa pendapat yang berbeda. Masing-masing pihak bisa saja kekeh dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapat pihak lainnya. jika ini terjadi maka dibutuhkan pihak ketiga sebagai pihak penengah yang mampu menyatukan pendapat dari semua pihak yang terlibat dalam negosiasi. Proses ini penting karena jika tidak ada negosiasi maka bisa terjadi konflik berkepanjangan dari semua pihak yang terlibat nantinya
·         Mencapai kata sepakat
Manfaat dari negosiasi lainnya adalah untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat dalam dari semua pihak yang bernegosiasi. Misalnya saja penjual dan pembeli melakukan negosiasi mengenai harga barang. Pembeli dan penjual sudah memiliki harga harapan masing-masing namun dengan adanya negosiasi atau tawar menawar ini kemudian harga bisa mencapai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Ini tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak bukan?
·          Menyelesaikan masalah
Jika anda mengalami masalah dengan orang lain maka harus segera diselesaikan baik itu masalah kecil apalagi masalah besar. Untuk dapat menyelesaikan masalah bisa dilakukan dengan cara negosiasi. Negosiasi ini bisa anda lakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain tergantung dari masalah yang dihadapi. Jika masalah yang terjadi adalah masalah hukum maka semua pihak harus menyelesaikan masalah di pengadilan yang mengakomodasi masalah hukum. Hakim sebagai pihak penengah akan memberikan keputusan dan solusi kepada pihak-pihak yang bermasalah.
·         Menjalin kerja sama
Negosiasi juga bisa bermanfaat untuk menjalin kerja sama. Misalnya saja perusahaan yang melakukan negosiasi denga perusahaan lainnya supaya mereka bisa melakukan kerja sama. Kerja sama ini tentunya yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak. Adanya saling pengertian dan kepercayaan ini menjadi dasar kerja sama dari kedua perusahaan ini. jadi dengan adanya negosiasi ini juga bisa mengembangkan perekonomian secara lebih luas bahkan nasional. Negosiasi yang bertujuan untuk menjalin kerja sama ini sudah lazim di dunia bisnis namun biasanya untuk bisnis besar mereka menggunakan kerja sama hitam di atas putih supaya jika salah satu pihak ada yang melanggar bisa dipidanak

C.     Tujuan Negosiasi


Tujuan negoisasi adalah sebagai beriku
Mempelajari tawaran klien / seseorang
Menawarkan suatu solusi permasalaha untuk menyelesaikan konflik kepentingan dan permasalahan

D.    Sasaran Negosiasi


1.      Antara dua orang
Misalnya: pada saat manajer dan bawahannya memutuskan tanggal penyelesaian proyek yang harus diselesaikan oleh bawahan.
2.   Dalam kelompok
Misalnya: untuk mengambil keputusan kelompok atas suatu kasus.

E.     Tehnik Pelaksanaan Negosiasi


Langkah-langkah dalam melakukan negosiasi:
1.      Persiapan
Pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang
 ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita dapat
membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki
pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya. Hal
kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental kita.
2.       Pembukaan
Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu pleasant
(menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Berikut
ada beberapa tahapan dalam mengawali sebuah negosiasi:
1.      Jangan memegang apa pun di tangan kanan Anda ketika memasuki ruangan negosiasi.
2.      Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dahulu.
3.      Jabat tangan dengan tegas dan singkat.
4.      Beri senyum dan katakan sesuatu yang tepat untuk mengawali pembicaraan.

3.      Memulai proses negosiasi
Langkah pertama yang memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:
1.      Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi.
2.      Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri.
3.      Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka.
4.      Sediakan ruang untuk manuver atau tawar-menawar  dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak.
5.      Sampaikan bahwa “jika mereka memberi Anda ini, Anda akan memberi mereka itu” sehingga mereka mengerti dengan  jelas apa yang harus mereka berikan sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.
6.      Hal kedua dalam tahap permulaan proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain.

4.       Zona tawar menawar
Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar-menawar, kita perlu mengetahui apa itu the bargaining zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual dan tawaran awal oleh pembeli.

5.      Membangun kesepakatan
Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya. Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan bila sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan.

F.     Kelebihan dan Kekurangan dari Negosiasi


Kekurangan :
a.       Tidak dapat berjalan tanpa adanya kesepakatan dari keduabelah pihak;
b.      Tidak efektif jika dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang mengambil kesepakatan;
c.       Sulit berjalan apabila posisi para pihak tidak seimbang;
d.      Memungkinkan diadakan untuk menunda penyelesaian untuk mengetahui informasi yang dirahasiakan lawan;
e.       Dapat membuka kekuatan dan kelemahan salah satu pihak;
f.       Dapat membuat kesepakatan yang kurang menguntungkan;

Kelebihan:
a.         Negosiasi memberi peluang yang sangat luas bagi para pihak untuk menentukan pilihan-pilihannya
b.        Tidak bergantung pada norma hokum tertulis
c.         Dapat memberikan ruang bagi para pihak untuk bisa menang secara bersama-sama.
d.        semua pihak memperoleh kesempatan untuk menjelaskan berbagai persoalan dalam proses negosiasi.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Phil Baguley dalam bukunya yang berjudul Teach Yourself Negotiating mendefinisikan negosiasi sebagai suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati atau diterima oleh kedua belah pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Negosiasi terdiri dari 5 tahapan yaitu persiapan,pembukaan, memulai proses negosiasi, zona tawar-menawar, dan membangun kesepakatan.

B.     Saran

Dalam bernegosiasi diperlukan seseorang yang mampu melihat peluang, sabar, dan memiliki daya sensitifikasi sosial yang tinggi. Sebelum melakukan negosiasi hendaknya seorang negosiator mempelajari situasi yang ada. Dalam bernegosiasi seorang negosiator jangan memberikan harga yang tinggi dari harga yang sebenarnya, dan negosiator janganlah menawar harga jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan.

Semoga bermanfaat^^ 
loading...

Popular Posts

 
Syoretta's Blog Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template